Tampilkan postingan dengan label Siroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siroh. Tampilkan semua postingan

Kemuliaan dan Keutamaan Aisyah

KEMULIAAN DAN KEUTAMAAN AISYAH



Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi. Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjaid pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau. Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.

KEDUDUKAN AISYAH DI SISI RASULULLAH
Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

CANDA NABI KEPADA AISYAH
Aisyah bercerita, “Suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa ini wahai Aisyah.” Lalu aku katakan, “Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN AISYAH

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita sepeerti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Beberapa kemuliaan itu di antaranya:


Pertama: Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.

Aisyah sendiri pernah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnhya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilhairkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengna ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))

Kedua: Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))

Maka pantaskah kita membenci apalagi mencela orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!! Mencela Aisyah berarti mencela, menyakiti hati, dan mencoreng kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillah.

Ketiga: Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.

Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengna ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))

Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehetan, dan ilmu syair.”

Keempat: Para pembesar sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada Aisyah dan menanyakannya hingga Aisyah menyebutkan jawabannya.

Berkata Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3044))

Kelima: Tatkala istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengna kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.

Keenam: Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum.

Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))

Ketujuh: Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.

Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tetnangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))

Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.”

Kedelapan: Barang siapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena Al-Quran telah turun dan menyucikan dirinya, berbeda dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Kesembilan: Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhShanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari’at.

Kesepuluh: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, Beliau memilih tinggal di rumah Aisyah dan akhirnya Beliau pun meninggal dunia dalam dekapan Aisyah.

Berkata Abu Wafa’ Ibnu Aqil, “Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakr) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka…?!!”

Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Aamiin.

Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang telah dicontohkan Aisyah kepada kita di antaranya:

  1. Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
  2. Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
  3. Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keShalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Wallahu A’lam.



Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 06 Tahun kiadhan 1427 H / Oktober 2006

2 Kesalahan Dalam Memahami Biografi Nabi

2 Kesalahan Dalam Memahami Biografi Nabi



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur sempurna. Beliau menjadi teladan umatnya dalam segala hal. Tidak hanya dari sisi teori, tapi juga pengamalan dari teori tersebut. Ada nabi yang tidak punya istri. Beliau memiliki istri. Ada nabi yang tidak punya anak. Beliau memiliki anak, bahkan cucu. Sehingga umat beliau bisa meniru beliau dengan status apapun yang mereka sandang.

Manusia terkadang mencari-cari sosok teladan dalam keadaan yang sedang mereka hadapi. Apakah mereka tidak pernah membaca biografi nabi mereka?

Mereka yang ditimpa musibah kehilangan orang tua. Nabi kehilangan ayah sejak dalam kandungan ibu. Tak sempat memandang wajah sang ayah. Kehilangan ibu saat berusia enam tahun. Kemudian kehilangan kakek dan paman. Mereka yang kehilangan istri tercinta. Nabi kehilangan dua kekasih beliau, Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah di masa hidupnya. Mereka yang bersedih karena kehilangan anak. Nabi memiliki tujuh orang anak. Semuanya wafat sebelum beliau, kecuali Fatimah.

Mereka yang jadi rakyat, yang jadi pemimpin, bisa meneladani beliau. Karena beliau pernah menjadi rakyat yang tertindas di Mekah. Dan menjadi pemimpin yang adil di Madinah. Mereka yang miskin dan kaya, pun tidak bingung mencari sosok teladan. Nabi pernah miskin bahkan sangat miskin di awal Islam. Kemudian kaya raya di akhir masa kenabian.

Karena pentingnya sosok nabi untuk diteladani, menjadi penting pula memahami dengan benar rekam jejak kehidupan beliau. Setidaknya ada dua kesalahan umum di tengah masyarakat kita dalam memahami biografi beliau.

Pertama: Nabi itu sepanjang hidupnya, hidup dalam keadaan miskin.

Inilah pandangan umum pertama. Mereka meyakini hidup nabi adalah hidup yang sulit. Merujuk kepada beberapa data berikut ini:

Pertama: Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ

“Tidak pernah keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).

Kedua: Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan,

إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ نَمكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلا التَّمْرُ وَالْمَاءُ

“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim 2972 dan at-Tirmidzi 2471).

Ketiga: Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kenyang dengan roti gandum.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يشير بإصبعه مرارًا يقول: والذي نفس أبي هريرة بيده، ما شبع نبي الله صلى الله عليه وسلم وأهله ثلاثة أيام تباعًا من خبز حنطة حتى فارق الدنيا.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) Hingga beliau berpisah dengan dunia”. (HR. Muslim 2976 dan Ibnu Majah 3343).

Keempat: Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu melihat bekas guratan tikar di pipi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar berkisah tentang kebersamaannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”

Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keaadan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Rasulullah menjawab,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الآخِرَةُ

“Apakah engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. al-Bukhari 4629 dan Muslim 1479).

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang bisa ditafsirkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang miskin. Di sisi lain, ada riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang kaya. Tidak hanya kaya, tapi kaya raya. Seperti riwayat-riwayat berikut ini:

Pertama: Riwayat dari Umar bin al-Khattab yang menceritakan kondisi perekonomian nabi setelah Perang Khaibar di tahun 7 H.

كانت لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث صفايا: بني النضير وخيبر وفدك ، فأما بنو النضير فكانت حبسا لنوائبه ، وأما فدك فكانت حبسا لأبناء السبيل ، وأما خيبر فجزأها رسول الله ثلاثة أجزاء ، جزأين قسمهما بين الناس ، وجزءا نفقة لأهله ، وما فضل عن نفقة أهله حبسه أو جعله في فقراء المهاجرين. رواه أبو داود

“Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tiga pilihan dari harta rampasan perang: Ladang peninggalan Bani Nadhir, ladang Khaibar, dan Fadak. Hasil ladang Bani Nadhir, beliau gunakan untuk membiayai berbagai keperluan beliau. Hasil ladang di Fadak, beliau persiapkan untuk orang-orang yang kehabisan bekal di perjalanan. Dan hasil ladang Khaibar beliau bagi menjadi tiga bagian: Dua bagian beliau bagi-bagikan kepada masyarakat, sedangkan bagian ketiga beliau gunakan untuk menafkahi keluarganya. Bila masih terdapat sisa, maka beliau wakafkan atau beliau distribusikan kepada kaum Muhajirin yang fakir miskin.” (Arifin Baderi, 2016, Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad, Hal: 22-23).

Dari hasil ladang negri Khaibar ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menafkahi istri-istrinya. Setiap tahun, masing-masing istri beliau mendapatkan nafkah sebesar 100 wasaq (takar) ; 80 wasaq kurma dan 20 wasaq gandum (Arifin Baderi, 2016, Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad, Hal: 22-23).

Sebagian literatur fiqih, menjelaskan bahwa 1 wasaq sebanding 60 Sha’a, dan satu Sha’a sama dengan 2040 gram, atau 2,040 Kg.

Berdasarkan data ini, maka kita dapat mengetahui bobot satu wasaq, yaitu: 2,040Kg x 60 = 122,4 Kg.

Selanjutnya berdasarkan hitungan ini, kita dapat mengetahui bahwa total nafkah yang beliau berikan kepada masing-masing istri beliau sebagai berikut: 80 x 122,4 = 9.792 Kg kurma.

20 x 122,4 = 2.448 Kg, gandum.

Bila kita asumsikan harga 1 Kg kurma senilai Rp 45.000, maka total nilai nafkah kurma setiap istri beliau ialah : 9.792 x Rp 45.000 = Rp. 440.640.000

Dan bila kita asumsikan harga 1 Kg gandum adalah Rp. 5.200,-

Maka nafkah gandum setiap istri beliau adalah senilai : 2.448 x Rp. 5.200 = Rp. 11.689.600

Bila nafkah kurma ditambahkan ke nafkah gandum maka total nila nafkah yang didapat oleh setiap istri beliau adalah = Rp. 440.640.000 + Rp. 11.689.600 = Rp.451.329.600.

Selanjutnya dapat diketahui nilai nafkah masing-masing istri beliau setiap bulan senilai Rp. 37.694.133,-

Padahal, beliau memiliki 9 orang istri, dengan demikian total nafkah beliau untuk seluruh istrinya, adalah: Rp. 451.329.600 x 9 = Rp.4.061.966.400,-

Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang kaya raya.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami fase kehidupan sulit dan fase kekayaan. Di awal masa kenabian dan awal kedatangan di Madinah, beliau mengalami kondisi perekonomian yang sulit. Tapi di akhir kehidupan beliau, beliau menyandang status sebagai seorang yang kaya. Hanya saja beliau tidak mengubah gaya hidup yang sederhana dan bersahaja. Kekayaan harta digunakan bukan untuk meningkatkan belanja, tapi digunakan untuk meningkatkan pemberian.

Kaya dan miskin memiliki peluang yang sama untuk bertakwa kepada Allah.

Kedua: Pemahaman masyarakat tentangn kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap menerima, pemaaf, tidak pernah marah, dalam berbagai keadaan.

Pemahaman masyarakat ini didasarkan pada data-data berikut ini:

Pertama: Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab badui mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta sesuatu. Saat itu, beliau sedang mengenakan jubah. Orang badui tersebut menarik jubah beliau hingga sobek. Goresan bekas tariakn tersebu membekas di leher beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruh orang itu diberikan sesuatu. (HR. Ahmad dan selainnya).

Ini menunjukkan kelemah-lebutan dan kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi kekasaran yang dilakukan orang lain.

Kedua: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284).

Dan riwayat-riwayat lain yang menjelaskan tentang kesabaran dan sifat nabi yang memaafkan. Riwayat-riwayat yang banyak tentang hal ini bukanlah berarti nabi tidak pernah marah. Kita tahu, dalam kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai terjadi kurang-lebih 27 peperangan. Tentu hal ini menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kekuatan untuk menghadapi orang-orang yang berlebihan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mengutuk orang-orang kafir. Sebagaimana terjadi pada Perang Khandaq. Beliau menghadapi orang-orang musyrik hingga menunda shalat ashar sampai menjelang maghrib. Beliau kutuk orang-orang tersebut dengan mengatakan,

مَلَأَ اللَّهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَارًا، كَمَا شَغَلُونَا عَنْ صَلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ

“Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api. Sebagaimana mereka telah memenuhi (menyibukkan) kita dari shalat wushta (ashar) hingga matahari terbenam.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak membakar rumah kaum laki-laki yang tidak shalat lima waktu berjamaah di masjid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

“Demi jiwaku yang ada pada tangan-Nya, aku telah bermaksud memerintahkan untuk mengambilkan kayu bakar, lalu dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan azan shalat untuk dikumandangkan. Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang berjama’ah, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjama’ah lalu aku membakar rumah mereka.” (HR. Bukhari, no. 644 dan Muslim, no. 651).

Kesimpulannya, Nabi shallallahu pernah marah dan beliau pun seorang yang sabar. Beliau sabar apabila pribadi beliau yang diganggu. Dan beliau marah apabila agama dan syariat ini diusik. Dari sini kita mengetahui apa yang dimaksud dengan bijaksana. Kita juga mengetahui mana marah yang terpuji dan marah yang tercela. Beliau marah karena syariat dilanggar. Bisa jadi orang-orang yang lemah imannya menganggap kemarahan beliau berlebihan. Karena mereka terbiasa meninggalkan apa yang dianggap oleh Nabi sesuatu yang serius. Mereka menganggap kecil apa yang beliau anggap besar.

Demikian juga dengan orang-orang yang hanya diam ketika syariat ini diusik, disepelekan, dan dicela, kemudian mereka mengklaim moderat, tentu itu ucapan dusta. Siapa yang lebih moderat dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mempraktikkan Islam? Ucapan mereka adalah bukti hilangnya rasa kecemburuan dan rasa memiliki agamanya sendiri.

Sumber:

– Badri, Arifin. 2016. Konsep Kaya dan Miskin; Studi Anasilisa Status Sosial Nabi Muhammad. Ejournal.stdiis.ac.id.
– Al-Maqdasi, Abdul Ghani. 2005. Terj Umdatul Ahkam. Yogyakarta: Media Hidayah.
– https://kisahmuslim.com/category/kisah-nyata/kisah-nabi-muhammad

Penulis: Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Harun Ar-Rasyid, Pemimpin yang Mencintai Sunnah dan Ulama

Harun Ar-Rasyid, Pemimpin yang Mencintai Sunnah dan Ulama



Pemutar-balikan fakta hampir terjadi di setiap babak sejarah Islam. Kejadian yang baik disusupi berita bohong dan palsu, kemudian dinilai menjadi kejadian buruk. Tokoh panutan ditampilkan menjadi antagonis yang layak dapat cercaan bahkan doa jelek. Masyarakat awam pun gamang, bagian mana dari sejarah Islam ini yang patut jadi teladan. Akhirnya, generasi muda Islam tumbuh dengan kekaguman dengan tokoh-tokoh penjajah yang jauh dari nilai-nilai Islam. Dan mereka benci dengan pahlawan-pahlawan yang memperjuangkan keluhuran agama mereka.

Di antara tokoh yang menjadi sasaran penghancuran karakter adalah Khalifah Abbasiyah Harun al-Rasyid rahimahullah. Para perusak sejarah Islam mencoba menggambarkan image Harun al-Rasyid dengan tampilan seorang pemabuk. Malam-malamnya adalah hidup foya-foya. Seorang diktator yang dikelilingi selir dan para penari. Mengapa image ini perlu ditampilkan? Karena beliau khalifah terbaik Abbasiyah. Pengibar bendera jihad dan sangat besar perhatian terhadap ilmu dan ulama. Seorang figur teladan yang ingin dibuat sebagai pecundang yang mengecewakan.

Harun al-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada malam sabtu 16 Rabiul Awal 170 H. Bertepatan dengan 14 September 786 M. Ia menggantikan kedudukan ayahnya yang wafat, Khalifah al-Mahdi. Saat diangkat menjadi pimpinan tertinggi kerajaan, Harun al-Rasyid baru menginjak usia 25 tahun.

Memuliakan Ulama

Harun al-Rasyid adalah seorang raja yang dikenal memuliakan ulama. Ia begitu mengagungkan agamanya. Tidak suka perdebatan dan banyak bicara. Dan ia sangat mencintai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam beberapa risalahnya, Al-Qadhi Iyadh, memiliki kesan yang mendalam pada figur Harun al-Rasyid. Beliau mengatakan, “Tidak kuketahui seorang raja pun yang bersafar menempuh perjalanan belajar kecuali al-Rasyid. Ia berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan oleh Imam malik rahimahullah.”

Saat akhir hayat sang khalifah, Abdullah bin al-Mubarak bersedih. Ia duduk penuh duka. Sampai orang-orang pun menghiburnya. Abdullah bin al-Mubarak adalah seorang ulama tabi’ tabi’in. Seorang yang shaleh dan wara’. Orang seperti beliau bersedih dan menangis ketika Harun al-Rasyid hendak wafat.

Abu Muawiyah ad-Dharir mengatakan, “Tidaklah aku menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan al-Rasyid kecuali beliau mengucapkan, ‘Shalawat untuk junjunganku’. Kemudian aku riwayatkan sebuah hadits kepadanya. (Rasulullah bersabda) ‘Sungguh aku ingin berperang di jalan Allah, kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi’. (mendengar hadits itu) Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu.”

Hadits ini selengkapnya adalah sebagai berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَدِدْتُ أَنِّي أُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، فَأُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ، ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berandai, berperang di jalan Allah. Kemudian terbunuh. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh lagi. Kemudian hidup kembali. Kemudian terbunuh kembali.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tamanni, 6713).

Hadits ini menggambarkan tentang pahala jihad dan bagaimana keberanian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wafat di medan perang bukanlah kematian yang ringan. Wafat di medan perang adalah kematian yang memakan waktu, berhadapan dengan sesuatu yang menakutkan, melihat darah terkucur, dan rasa sakit yang tidak sesaat. Tapi beliau berani melakukannya. Dan berharap pahala besar dari amalan jihad.

Mendengar hadits ini, dan semangatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memperjuangkan Islam dan mendapatkan pahalanya, Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu. Anda baru saja membaca hadits tersebut. Bagaimana perasaan Anda? Apakah pada bacaan pertama Anda, Anda merasakan apa yang dirasakan Harun al-Rasyid? Anda mengalami seperti apa yang ia alami? Dari sini, barulah kita bisa membedakan antara cinta kita dengan Rasulullah dan hadits beliau, beda dengan cintanya Harun al-Rasyid kepada Nabi dan haditsnya.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asakir dari Ibnu Aliyah, ia berkata, “Harun al-Rasyid menangkap seorang zindiq (yang rusak akidahnya). Ia memerintah agar si zindiq ini dipenggal. Si zindiq ini berkata kepada Harun, “Engkau tidak akan memenggal kepalaku.” “Aku akan membuat orang-orang terhenti dari ulah burukmu”, jawab Harun.

Si Zindiq ini berkata lagi:

فأين أنت من ألف حديث وضعتها على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كلها ما فيها حرف نطق ب

“Apa yang bisa kau lakukan terhadap 1000 hadits yang telah kupalsukan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Semua hurufnya telah terucapkan.” Ia menakuti Harun, kalau dia mati siapa yang bakal menunjukkan hadits-hadits palsu yang telah beredar itu. Karena dia yang membuat, dia pulalah yang tahu mana ucapan-ucapannya.

Tapi Harun al-Rasyid dtidak menggubris tawarannya. Dengan percaya diri ia menjawab,

فأين أنت يا عدو الله من أبى إسحاق الفزارى وعبد الله بن المبارك ينخلانها فيخرجانها حرفا حرف

“Apakah kau tidak tahu wahai musuh Allah tentang keahlian Abu Ishaq al-Fazari dan Abdullah bin al-Mubarak? Mereka akan menelitinya dan menilainya huruf per huruf.”

Sanjungan Ulama

Para ulama memuji Khalifah Harun al-Rasyid atas keadilannya dan keshalehannya. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata,

ما من نفس تموت أشد علي موتا من أمير المؤمنين هارون ولوددت أن الله زاد من عمري في عمره

“Tak ada seorang pun yang kematiannya lebih kutangisi dibanding kematian Amirul Mukminin Harun. Aku berandai kalau Allah mengambil jatah usiaku untuk ditambahkan pada usianya.”

Murid-murid Fudhail bin Iyadh berkata, “Kami menganggap bahwa ucapan beliau hanya sanjungan berlebihan terhadap Harun al-Rasyid. Ketika Harun wafat. Kemudian muncullah fitnah. Khalifah al-Makmun menyebarkan pemahaman khalqul quran di tengah masyarakat. Kami pun berkata, ‘Guru kita sangat paham terhadap apa yang ia ucapkan’.”

Penulis: Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Kisah Setangkai Anggur untuk Pendidikan

Kisah Setangkai Anggur untuk Pendidikan


Adz Dzahabi dalam Tarikhul Islam ketika menyebutkan biografi Al Hakam bin Al Walid Al Wuhadzi Al Himshi salah seorang Shighor At Tabi’in, menyebutkan riwayat kisah ini dengan teks,

عن أبي بُسْرٍ قَالَ: بَعَثَتْنِي أُمِّي بِقِطْفِ عِنَبٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلْتُهُ، فَكَانَ بعد إذا رآني قال: «غدر، غدر»

Dari Abu Busr berkata: Aku diutus ibuku untuk memberikan setangkai anggur kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi aku memakannya. Maka, jika Nabi melihatku beliau berkata: Pelanggar amanah, pelanggar amanah.

Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir juga menyampaikan tentang biografi Al Hakam dan menyebutkan riwayat ini,

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ: بَعَثْتَنِي أُمِّي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُطْفٍ مِنْ عِنَبٍ فَأَكَلْتُهُ فَقَالَتْ أُمِّي: أَتَاكَ عَبْدُ اللَّهِ بِقُطْفٍ؟ قَالَ: لا فكَانَ إذا رآني قَالَ: غُدَرُ غُدَرُ!

Dari Abdullah bin Busr: Ibuku mengutusku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk memberikan setangkai anggur, tapi aku memakannya. Ibuku bertanya: Apakah Abdullah telah memberimu setangkai anggur? Beliau menjawab: Tidak. Maka jika beliau melihat saya, beliau berkata: Pelanggar amanah, pelanggar amanah.

Ibnu Adiy dalam Al Kamil dengan sanadnya meriwayatkan hadits ini dengan lafadz persis seperti lafadz Al Bukhari di atas.

Ibnu Nuqthoh Al Baghdadi dalam Ikmal Al Ikmal meriwayatkan hadits ini dengan lafadz yang juga sama dengan riwayat Al Bukhari. Ibnu Hajar dan Lisan Al Mizan meriwayatkan dengan lafadz yang sama. Abul Hasan Alin bin Abdillah bin Ibrahim Al Hasyimi dengan sanadnya ia meriwayatkan kisah yang juga sama lafadznya (lihat: Majmu’ fihi ‘Asyratu Ajza’ Haditsiyyah). Demikian juga dengan Abu Nu’aim Al Ashafani dalam Ath Thibb An Nabawi.

Adapun Ibnu Sunni dalam ‘Amalaul Yaumi Wal Lailah meriwayatkan dengan tambahan lafadz dan An Nawawi mengambil riwayat ini dalam Al Adzkar. Berikut teksnya,

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ الْمَازِنِيَّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: بَعَثَتْنِي أُمِّي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِطْفٍ مِنْ عِنَبٍ، فَأَكَلْتُ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ أُبَلِّغَهُ إِيَّاهُ، فَلَمَّا جِئْتُ بِهِ أَخَذَ أُذُنِي وَقَالَ: «يَا غُدَرُ»

Dari Abdullah bin Busr Al Mazini radhiallahu anhu berkata: Ibuku mengutusku kepada Rasulullah untuk membawa setangkai anggur, tapi aku makan sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku datang, beliau menjewer telingaku dan berkata: Hai pelanggar amanah.

Al Khathib Al Baghdadi dengan sanadnya meriwayatkan kisah di atas, hanya saja dengan tambahan lafadz:

Ketika aku menemui beliau, beliau mengusap kepalaku dan berkata: Hai pelanggar amanah.

Adapun riwayat Ibnu Majah dalam Sunan nya, meriwayatkan kisah setangkai anggur tetapi bukan pada sahabat Abdullah bin Busr melainkan sahabat An Nu’man bin Basyir,

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: أُهْدِيَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عِنَبٌ مِنْ الطَّائِفِ، فَدَعَانِي فَقَالَ: “خُذْ هَذَا الْعُنْقُودَ فَأَبْلِغْهُ أُمَّكَ” فَأَكَلْتُهُ قَبْلَ أَنْ أُبْلِغَهُ إِيَّاهَا، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ لَيَالٍ قَالَ لِي: “مَا فَعَلَ الْعُنْقُودُ؟ هَلْ أَبْلَغْتَهُ أُمَّكَ؟ ” قُلْتُ: لَا. قال: فَسَمَّانِي غُدَرَ

Dari Nu’man bin Basyir berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam dihadiahi anggur dari Thaif. Beliau memanggil saya dan berkata: Ambil setangkai anggur ini dan sampaikan kepada ibumu. Maka aku memakannya sebelum sampai kepada ibuku. Setelah beberapa malam, beliau bertanya kepadaku: Apa kabarnya setangkai anggur? Apakah telah kamu berikan kepada ibumu? Aku berkata: Tidak. Maka beliau menamaiku dengan: Ghudar (pelanggar amanah).

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Al Mizzi dengan sanadnya dalam Tahdzib Al Kamal dengan sedikit tambahan: Maka aku memakannya di jalan.

Kemudian Al Mizzi menjelaskan:

Menurut penulis kitab Al Athraf, hadits Ibnu ‘Irq dari ayahnya dari An Nu’man bin Basyir adalah riwayat yang rancu. Dia berkata: yang benar adalah riwayat Ibnu ‘Irq dari Abdullah bin Busr. Tetapi dia tidak memberikan dalil (atas pernyataannya ini). Padahal sangat mungkin keduanya benar. Bahwa ini adalah dua kisah yang berbeda. Wallahu a’lam

Maka inilah kesimpulan dari kisah setangkai anggur ini,

Ada dua peristiwa yang berbeda, menurut Al Mizzi
Kisah pertama terjadi pada Abdullah bin Busr yang diamanahi ibunya untuk memberikan anggur kepada Rasulullah
Kisah kedua terjadi pada An Nu’man bin Basyir yang diamanahi Rasulullah untuk memberikan anggur Thaif kepada ibunya

Kedua kisah tersebut sama-sama terjadi pada anak yang masih kecil
Kedua kisah tersebut sama-sama tidak sampai amanahnya
Tapi terdapat pernyikapan yang sama: Teguran
Teguran itu berupa: Pertama, kalimat (“Hai pelanggar amanah”), melihat teks-teks di atas maka kalimat itu tidak hanya disebutkan sekali. Tetapi beberapa kali di beberapa pertemuan, beliau mengingatkan dengan teguran kalimat tegas ini. Kedua, tindakan menjewer telinga. Ketiga, tindakan mengusap kepala

Kisah setangkai anggur tersebut memberikan inspirasi mahal. 


Pertama, mari kita belajar menggali lebih dalam ketika ada kisah yang dirasa sama namun berbeda. Bagaimana menelusuri riwayat-riwayat yang telah disebutkan para ulama. Khilafiyah mungkin saja terjadi. Yang terpenting bukan  klaim siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi bagaimana proses menggali dan menelusuri ilmu hingga sampai pada kesimpulan  yang akan menjadi hujjah argumen ataupun tindakan kita.

Kedua, dari sisi aplikasi dan penerimaan, mungkin berat bagi kita yang terbiasa mendapat ilmu parenting bukan dari sumber Islam untuk menerima panggilan yang diberikan Rasul kepada anak-anak yang tidak memegang amanah yang diberikan pada mereka. Tapi justru di sinilah ada pelajaran luar biasa: bahwa Islam menempatkan amanah di  tempat yang sangat penting hingga Rasul sampai perlu memanggil anak-anak tersebut dengan panggilan yang tidak nyaman bagi mereka. Anak-anak dengan fitrah yang baik tidak akan nyaman dengan panggilan itu dan akan membuktikan dirinya tidak seperti itu.

Bila ada yang berpendapat sebaliknya, mungkinkah kita yang tidak meyakini fitrah baik yang ada di anak-anak kita.

Penulis: Ustadz Budi Ashari

Artikel yang terdapat di blog ini sebagian besar merupakan Copy Paste dari artikel lainnya dan kami selalu menuliskan keterangan penulis artikel serta link sumber diambilnya artikel.