Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan

EDISI 002 - ANAK DENGAN SINDROM TAMU

ANAK DENGAN SINDROM TAMU



Mengubah Tamu Sindrom Menjadi Potensi Positif Bagi Anak
Bunda ayah…
Baik kita sedang menerima tamu, atau pun pada saat kita bertamu, kita sering mengalami peristiwa seperti ini. Terutama di kalangan keluarga muda yang memiliki anak relatif masih kecil-kecil. Tanpa sadar terkadang kita kehilangan kesempatan emas untuk mengubah sebuah suasana yang kita anggap menyebalkan ini menjadi kuatnya hubungan emosional kita dengan anak. Atau bahkan kesempatan untuk membangun kekuatan interaksi sosial anak dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Merupakan sebuah pemandangan yang menarik ketika Anas yang mendampingi Rasulullah sejak ia berusia sepuluh tahun itu bercerita,

عَنْ أَنَسٍ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُ الأَنْصَارَ ، وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ
Dari Anas, Rasulullah mengunjungi shahabat-shahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka.

Bunda ayah….
Anas menceritakan kepada kita sebuah peristiwa di mana saat itu Nabi Shalallahu’alaihi wasallam mengunjungi para shahabat Anshar. Yang sangat menarik adalah fokus cerita Anas itu bukan pada kunjungan Rasulullah  kepada para shahabat Anshar tapi ia justeru menyoroti sebuah kejadian antara Rasulullah dengan anak- anak mereka.

وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ
“”Mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka.””

Ada yang Terlewatkan
Bunda Ayah…
Ada yang seringkali terlewatkan oleh kita ketika bertamu. Ketika kita mengunjungi sahabat atau kolega kita. Pada saat di sana kita temui ada anak-anak, kita sering melewatkan mereka. Fokus kita hanya kepada teman kita, hanya kepada urusan kita dan ini lah pertanyaan kita kepada mereka, “”Papanya ada dik ?””. Bahkan salam dan sapaan sederhana pun sering tidak kita berikan kepada mereka.

Muhammad itu seorang Rasul, pemimpin tertinggi  kaum muslimin, begitu banyak urusan umat yang ia harus selesaikan. Tapi ketika ia bertamu ke para shahabat Anshar, urusan penting itu tidak membuat perhatian terhadapa anak-anak mereka terlewatkan. Mengucapkan salam kepada mereka dan memberik sentuhan usapan di kepala mereka bukanlah merupakan sesuatu yang membuang-buang waktu. Tapi Rasulullah tahu betul bahwa ucapan salam dan usapan itu akan memberikan efek dan kesan yang luar biasa terhadap mereka.

Bukankah dalam memberikan salam Rasulullah memberikan kepada kita sebuah kaidah,

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ
“(Hendaklah) yang lebih muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6231).

“”Yang muda memberi salam lebih dulu kepada yang tua“”. Untuk anak-anak ternyata Rasulullah tidak demikian, Rasulullah memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang sedang memberikan contoh dalam proses pembelajaran kepada mereka. Rasulullah pun mengucapkan salam lebih dulu kepada anak-anak Anshar yang ia temui. Lalu Rasulullah mengusap-usap kepala mereka. Abdulllah bin Ja’far bahkan sangat ingat jumlah bilangan usapan pada saat Rasulullah mengusap-usap kepalanya.

وعن عبد الله بن جعفر – رَضِيَ اللهُ عَنْهُما- قال: مسح رسول الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ- بيده على رأسي، قال: أظنه قال ثلاثاً، فلما مسح قال: (اللهم اخلف جعفراً في ولده).  أخرجه الحاكم في المستدرك،  وقال الذهبي: صحيح
Dari Abdullah bin Ja’far Radhiallahu’anhuma, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengusap rambutku dengan tangannya, lalu ia di tanya,””Berapa kali?””, ia menjawab, “”Tiga Kali””. Setelah itu ia berdo’a, “”Ya Allah! Tinggalkan (kebaikan-kebaikan) Ja`far pada anaknya (Abdillah)””. (Di keluarkan oleh Al Hakim dalam mustadraknya, berkata Dzahabi Hadits ini Shohih.)

Inilah Kesempatan itu ?
Bunda ayah…
Ya..memang ada yang terlewatkan oleh kita pada saat kita bertamu atau menerima tamu. Sebuah perhatian dan sedikit sentuhan kepada anak.
Bunda ayah, sungguh Rasulullah memberikan contoh yang luar biasa. Ia datang, menyapa anak-anak lebih dahulu, mengucapkan salam kepada mereka, mengusap-usap kepala mereka. Setelah semua urusan itu selesai, baru Rasulullah berurusan dengan para Shahabatnya. Kenapa ketika kita kehadiran seorang tamu dan melihat anak kita mencoba mencari perhatian kita, tidak kita selesaikan dulu urusan mereka ? Bunda ayah, anak kita cuma ingin mengetahui siapa tamu bunda dan ayahnya. Ia ingin secuil perhatian. Akan lebih bijak ketika dia muncul kita memanggil dia, “”Kemari nak….sini Mama kenalkan sama teman mama. Om tante….ini anak sholeh mau kenalan sama om dan tante…ayo nak…beri ucapan salam ..ke om Ilham dan tante Aisyah..“”.

Bukankah kita yang bertamu akan lebih menarik kalau menyapa mereka, “”Subhanallah, Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh, wah…anak sholeh yang ganteng ini siapa namanya…sini nak salaman dulu dong….“”. Setelah bersalaman sambil mengusap kepalanya, “”Nama mu siapa nak ? Udah sekolah belum..?“”…dan seterusnya….

Bunda ayah…kalau itu yang kita lakukan pada saat kita bertamu atau menerima tamu, maka kita akan melihat sebuah efek yang sangat luar biasa….insya-Allah ia tidak akan mengganggu kita dan ia akan kembali asik dengan aktivitasnya.

Bunda ayah…apa yang sudah kita ajarkan kepada mereka dalam sesi yang sangat singkat ?

  • Kita telah mengajarkan kepada mereka tentang keutamaan menghormati tamu
  • Kita pun telah mengajarkan kepada mereka tentang keutamaan mengucapkan salam
  • Kita juga telah mengajarkan kepada mereka untuk berani berinteraksi dengan orang dewasa dan itu sangat membangun kepercayaan diri mereka.

Dan kita pun menjadi tidak terganggu selama bertamu atau menerima tamu. Subhanallah, semakin terasa bagi kita kemulian seorang Muhammad


Penulis: Elvin Sasmita

Edisi 001 - TANAH ITU SUCI, BUNDA




Tanah itu Suci, Bunda
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Darinya (tanah) itulah Kami Menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan Mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan Mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (Qs. Thaha: 55)


عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “” أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي: …وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا…

Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku diberi lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun nabi sebelumku: ….. dijadikan untukku bumi/tanah sebagai masjid dan untuk bersuci…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat menjelaskan bahwa manusia berasal, dikuburkan dan dihidupkan lagi dari tanah. Sementara yang dimaksud hadits ini adalah bahwa tanah bisa dijadikan untuk bersuci, di antaranya tayammum jika tidak ada air. Juga bisa dijadikan tempat shalat asal tidak di tempat yang dilarang.

Dalam aturan Islam, untuk bersuci air lebih baik dari tanah. Ketika ada air, tidak boleh bersuci dengan tanah. Dan tanah digunakan ketika air tiada. Tapi pada bersuci untuk najis berat, keduanya digunakan; menyucikan bejana dari jilatan anjing. Dicuci tujuh kali, salah satunya menggunakan tanah. Menurut sebagian ulama di antaranya An Nawawi (Al Minhaj) mengatakan: Sabun, Asynan (jenis pohon yang dahulu berfungsi sebagai sabun) atau yang sejenisnya, tidak bisa menggantikan tanah, dalam pendapat yang lebih kuat.

Kata (طهور) yang ada dalam hadits itu berarti suci dan menyucikan.Ia memberi makna bahwa tanah itu suci secara dzat dan bukan najis. Lebih dari itu, ia mampu menyucikan. Itu artinya ia memiliki kekuatan untuk menghilangkan najis dengan semua jenisnya.

Dan ternyata, para ilmuwan hari ini pun mengatakan bahwa unsur paling penting dalam kehidupan setelah air adalah tanah.

Setelah penelitian panjang, para ilmuwan menyimpulkan bahwa tanah, khususnya tanah vulkanik mempunyai kemampuan membunuh kuman sangat kuat dalam waktu 24 jam, di mana jika dibiarkan tanpa tanah kumannya akan berkembang hingga 45 kali lipat. Bahkan Jun Wang peneliti di Merck Research New Jersey mengatakan: Telah hadir kesempatan baru sekarang untuk menghasilkan antibiotik dari tanah! (Lihat kajian ini di kaheel7.com)

Dan masih sangat banyak penelitian para ilmuwan yang menyampaikan tentang manfaat tanah untuk tubuh kita.

Jadi ayah dan bunda, kembalikan hadits di atas ke dalam keluarga kita. Tanah itu suci. Tak hanya itu, tanah menyucikan. Bahkan ia berfungsi sebagai antibiotik. Yang pasti, antibiotik yang satu ini aman dan tak berefek samping. Kesehatan akan meningkat dengan kita menyentuh langsung tanah.

Mengapa kita mudah sakit hari ini. Mungkin kita kuwalat dengan hadits ini. Rasul mengatakan bahwa tanah itu suci dan menyucikan. Kita larang dengan keras anak kita sekadar menginjak tanah atau bermain tanah.

Kalau sekadar kotor, bisa dicuci dan dibersihkan dengan air. Tetapi anak-anak telah mendapatkan kebaikan yang Allah letakkan di tanah. Kalau sekali waktu tertusuk duri atau bahkan berdarah, insya Allah itu hal kecil yang bisa segera diatasi dan semoga mereka telah mendapatkan pengobatan gratis dengan ditusuknya kaki tempat berkumpulnya syaraf seluruh tubuh kita. Husnudzon…

Ayah dan bunda, beri anak-anak kesempatan untuk menginjak tanah Allah yang suci dan menyucikan ini. Kalau mereka sudah terlanjur hidup dengan cara ‘bersih’, suruh mereka melepas ‘kebersihan’ itu untuk ‘berkotor-kotor’ dalam keseharian mereka.

Kita tak perlu penelitian untuk mengambil manfaat dari kebaikan tanah ini. Kita hanya perlu petunjuk Rasulullah.

Tapi tak mengapa, kalau Anda masih belum yakin juga. Mungkin Anda tipe menjadi orangtua yang perlu menghabiskan waktu setahun untuk sekadar meyakinkan diri, seperti DR Haydel salah seorang ilmuwan hari ini. Ia  berbagi pengalamannya setelah meneliti hubungan antara tanah dan sel-sel hidup:

Setahun yang lalu saya menganggap bahwa tanah adalah benda yang kotor, tetapi hari ini saya mengatakan bahwa tanah adalah benda yang mampu membersihkan! (Lihat di kaheel7.com)


Kelamaan…!



Penulis: Ustadz Budi Ashari
Artikel yang terdapat di blog ini sebagian besar merupakan Copy Paste dari artikel lainnya dan kami selalu menuliskan keterangan penulis artikel serta link sumber diambilnya artikel.